WELCOME MY GUEST

Hellow. Dari banyak kisah perjalanan kita, semestinya banyak yang bisa dipungut untuk menjadi catatan pinggir kehidupan. Saatnya untuk membagi kepada semua sahabat sebagai pelajaran hidup. Catatan Pinggir Jalan.....

Rabu, 25 Agustus 2010

Beda Gaya : Obama Dengan SBY

PRESIDEN Amerika Serikat Barack Obama sedang menghadapi kontroversi. Sebab, dukungan terhadap rencana pembangunan Islamic Center di dekat Ground Zero -bekas menara kembar WTC- di New York, menuai kritik sebagian besar rakyat AS. Namun, Obama tak goyah. Itulah, setidaknya, satu di antara tiga pelajaran atau teladan dari seorang pemimpin dunia yang patut ditiru Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai pemimpin, seseorang harus mementingkan nasib rakyatnya. Obama menunjukkan kepada SBY dan rakyat Indonesia ketika dia menunda kunjungan ke Jakarta -di antaranya bernostalgia di sebuah SD negeri di Menteng- menjelang disahkannya Undang-Undang Kesehatan yang sangat bersejarah. Obama, pada detik-detik pemungutan suara pengesahan undang-undang tersebut, tak bisa meninggalkan tanah air untuk memastikan semua lobi partainya berjalan mulus dan RUU itu disetujui menjadi UU.

Undang-Undang Kesehatan merupakan salah satu realisasi janji Obama dalam kampanye pada pemilu presiden 2008. Di beberapa negara bagian yang dikunjungi selama musim kampanye, Obama selalu mengungkapkan bahwa dirinya akan mewujudkan jaminan sosial bagi rakyat seperti yang selama ini diterima para angota kongres. Untuk hal tersebut, Obama tidak peduli dengan tuduhan Partai Republik bahwa kebijakannya sangat sosialis, bahkan mendekati komunis.

Sementara itu, SBY yang dicitrakan sebagai pemimpin prorakyat kecil, terutama menjelang pemilihan presiden 2009, tampaknya tak berlanjut ketika rakyat kembali memilihnya. Berbagai program seperti raskin (beras miskin), bantuan langsung tunai (BLT), dan kebijakan populer lainnya seakan menggelontor menjelang pemilihan presiden.

Setelah presiden kembali terpilih, terjadi kenyataan yang berbeda. Harga-harga bahan pokok membubung tinggi, tarif dasar listrik (TDL) naik, serta konversi dari minyak ke gas yang kurang sosialisasi berdampak jatuhnya korban ledakan tabung gas 3 kg.

Intinya, kebijakan pemerintah untuk mengentas kemiskinan tidak dilakukan secara mendasar -misalnya, menciptakan UU yang prowarga miskin seperti UU Kesehatan ala Obama-, melainkan hanya tambal sulam, apalagi hanya dilakukan menjelang pemilu.

Pelajaran kedua yang patut dicatat SBY adalah, lagi-lagi, penundaan kunjungan ke Indonesia gara-gara masalah dalam negeri. Kali ini, terjadi tragedi lingkungan. Yaitu, bocornya tambang milik British Petroleum (BP) di lepas pantai Teluk Meksiko sehingga terjadi pencemaran laut dan pantai yang dahsyat.

Obama tak tinggal diam. Dia memimpin rapat-rapat khusus dan terjun langsung ke lapangan. Tak hanya itu, dia juga ''mendamprat'' perusahaan raksasa minyak asal Inggris tersebut untuk bertanggung jawab menghentikan kebocoran dan mengganti seluruh kerugian yang diderita masyarakat pesisir pantai, satwa, serta biota laut.

Obama seolah ingin memberi tahu, beginilah berhubungan dengan perusahaan raksasa yang mencemari lingkungan. Tak sampai empat bulan, kebocoran minyak di lepas pantai itu bisa diatasi dan kerusakan segera diperbaiki serta korban mendapat ganti rugi.

Tentu, Obama tak mengetahui banyak perihal tragedi lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, sebagai pemimpin tertinggi di suatu negara, Obama memberikan teladan bahwa presiden harus tegas dan berani serta wajib berpihak kepada rakyat. Obama tak peduli bahwa Inggris adalah sekutu terdekat Amerika. Dia lebih peduli kepada korban pencemaran lingkungan.

Penyelesaian kasus lumpur Lapindo yang belum tuntas hingga bertahun-tahun menunjukkan kepemimpinan SBY kurang berani dan efektif menghadapi perusahaan milik kelompok Bakrie. SBY terlalu mempertimbangkan rasa sungkan terhadap Aburizal Bakrie karena dia merupakan salah seorang penyumbang terbesar saat pemilu presiden lalu. Sebaliknya, SBY kurang mempertimbangkan para korban lumpur Lapindo.

Di sisi lain, hal itu merupakan kepiawaian seorang Aburizal Bakrie sebagai bos kelompok usaha Bakrie sekaligus ketua umum Partai Golkar dan ketua Sekber Koalisi Partai pendukung SBY-Boediono.

Pelajaran ketiga Obama bagi SBY, ya itu tadi, dukungan terhadap rencana pembangunan Islamic Center di New York. Obama jelas melawan arus mayoritas rakyat AS seperti yang ditunjukkan oleh hasil beberapa survei tentang hal tersebut.

Berdasar hasil polling CNN pekan lalu, sekitar 70 persen warga AS menentang pembangunan gedung Islamic Centre dan masjid di bekas Menara Kembar yang diserang teroris, 9 September 2001, tersebut. Dalam survei sebelumnya, Pew Research Center dan Pew Forum on Religion & Public Life menyebutkan, 18 persen rakyat AS percaya bahwa Obama adalah seorang muslim.

Namun, Obama tetaplah sosok yang cerdas dan keras. Cerdas berargumentasi dan keras membela prinsip. Dukungannya terhadap pembangunan Islamic Center bukanlah disebabkan adanya simpati terhadap komunitas muslim AS -karena dia dilahirkan oleh seorang ayah beragama Islam dan masa kecilnya pernah tinggal di Indonesia. Tapi, Obama justru ingin menunjukkan bahwa dirinya Amerika tulen.

Yakni, menjunjung tinggi kebebasan dan pluralisme. Komunitas agama apa pun di negeri itu bebas berkumpul dan mendirikan tempat ibadah. Karena itu, Obama tak peduli dengan popularitas dirinya dan masa depan partainya pada pemilu mendatang. Dia tegar membela prinsip kebebasan dan pluralisme Amerika.

Bagaimana dengan SBY? Sangat tampak SBY tidak setegas Obama dalam urusan kebebasan beragama. Pendapatnya tentang Ahmadiyah dan serangan Islam radikal terhadap penganut agama non-Islam sangatlah normatif dan tidak tegas. SBY tampak tak ingin kehilangan simpati dari partai-partai Islam yang mendukung pemerintahnya. Itulah perbedaannya dari Obama yang tak peduli dengan urusan citra dan suara, jika menyangkut prinsip negara, yaitu kebebasan dan pluralisme.

Karena itu, akhir-akhir ini, di beberapa situs jaringan sosial semacam Facebook, banyak diskusi mengenai sikap SBY atas perusakan masjid milik penganut Ahmadiyah dan penggusuran gereja HKBP di Bekasi. Ada yang menulis, bagaimana kalau SBY ditukar guling dengan Obama saja.

Ada pula yang menganalisis dengan mengutip hasil survei Pew Research Center, jika di Amerika satu di antara lima orang percaya Obama beragama Islam, bisa jadi di Indonesia, satu di antara lima orang percaya SBY mendukung kebebasan dan pluralisme. Lho? Artinya, empat di antara lima orang Indonesia percaya SBY tidak pro kebebasan beragama, melainkan pro-Islam radikal. (*)

*) Tri Agus S. Siswowiharjo, Penulis buku ''Obama Bicara: Kumpulan 10 Pidato Obama Paling Memukau'' Judul Asli : Tiga Pelajaran Obama untuk SBY


Read More......

ATM Seorang Politisi

Berpolitik seperti berinvestasi. Semakin penuh ATM kita dengan investasi, semakin besar modal sukses. Tak ada politisi yang meraih kekuasaan tanpa investasi itu. Mereka bekerja keras membangun citra dan menanam kesan positif di benak konstituen agar dipilih.

Investasinya berbagai macam. Ada yang berkeliling dari komunitas ke komunitas mengamen ide dan gagasan. Ada yang berusaha memamerkan sikap kepemimpinan bahwa lebih mementingkan umat daripada dirinya atau keluarganya. Walaupun kita sulit menebak apakah investasi itu tulus atau tidak. Apakah hanya tebar pesona?

Itulah sebabnya incumbent lebih banyak menang ketimbang penantang. Para juara bertahan mempunyai ruang dan waktu untuk berinvestasi. Sebagian besar bupati atau gubernur yang maju lagi berhasil mempertahankan kursi kekuasaannya. Hanya yang keterlaluan tamak dan bersikap tak peduli kepada rakyatnya atau karena penantangnya yang luar biasa itulah yang membuat incumbent kehilangan singgasana.

SBY menang pada Pemilihan Presiden 2009 juga karena inivestasi yang sangat besar. Kalau ukurannya laut, investasi SBY sangat dalam. Jika ukurannya langit, sangat tinggi. Dia menang dengan mudah, walaupun lawannya berat-berat. Bayangkan, menang dalam satu putaran dengan menyisihkan Megawati- Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto.

Mega yang kita kenal mempunyai massa fanatik dan mantan presiden juga kalah pamor oleh investasi tebar pesona ala SBY. Demikian juga Jusuf Kalla, yang disebut-sebut tokoh dinamis itu. Ternyata investasi yang tersimpan di ATM politik tokoh Golkar tersebut kalah juga.

***

Apa sih invetasi SBY? Tentu banyak. Gaya yang tenang juga punya nilai. Penampilan fisik yang selalu prima dengan rambut rapi tentu juga bentuk investasi. Sejumlah tindakannya sebagai presiden periode pertama juga telah memperbanyak isi ATM politiknya.

Kita masih ingat, SBY cukup gagah menanggapi krisis Ambalat 2005. Dengan menumpang kapal perang, jenderal bintang empat itu menuju garis terdepan. Seratus KRI dan sejumlah pesawat tempur me­ngiringi dia. Lewat teropong, dia menyaksikan kapal Malaysia yang menjauh karena kedatangannya. Sikap itu memberikan kepercayaan diri bagi bangsa Indonesia saat Malaysia mencoba menggoda di perbatasan.

Sikap tegas dengan Malaysia juga ditebar SBY saat salah seorang wasit asal Indonesia dikeroyok oleh para Polis Diraja Malaysia pada 2007. Begitu tegasnya sikap kita membuat PM Malaysia Abadullah Badawi tak berkutik. Saat itu, secara khusus, Pak Lah -begitu Badawi dipanggil- meminta maaf kepada bangsa Indonesia. SBY yang berada di Istana Tampaksiring dengan gagah menerima telepon mohon maaf dari Kuala Lumpur.

SBY juga berinvestasi banyak dalam hal pemberantasan korupsi. Cukup tegas. Pejabat di semua level terseret ke pengadilan. Jenderal sekalipun menjadi pesakitan. Tak terbilang, bupati, mantan bupati, para anggota DPR, dan mantan menteri sekalipun merasakan pengapnya penjara karena terbukti korupsi.

Puncaknya, SBY dengan ikhlas melepas sang besan, Aulia Pohan, menuju tahanan. Kita tak dapat membayangkan perasaan SBY ketika kerabat dekatnya itu menjadi korban dari sikap tegas dirinya. Sejatinya, sebagai presiden, SBY bisa saja melakukan berbagai manuver penyelamatan terhadap bapak mertua Agus Harimurti Yudhoyono itu. Tetapi, SBY memilih membiarkan besannya tersebut dikawal polisi menuju ke jeruji sel. Dan, SBY menjadi legitimate dijuluki pemimpin yang memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Sikap itu membuat modal ATM politiknya berjibun kala itu.

****

Dalam pekan-pekan terakhir ini, kita merindukan kisah heroik SBY itu lagi. Kita seperti terpukul ulu hati ketika para maling ikan dari Malaysia harus dibarter dengan pahlawan kita yang ditangkap Malaysia. Tiga penja­ga laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjaga laut di Kepulauan Riau tentu tak sebanding dengan nelayan Malaysia tersebut.

Di mana SBY? Mengapa tidak gagah lagi seperti saat Ambalat? Tidak ada parade KRI. Paling tidak, rakyat ingin mendengar telepon minta maaf PM Malaysia kepada SBY.

Jangan mengharapkan telepon itu datang karena Istana Kepresidenan di Jakarta kali ini tidak bersikap tegas terhadap negara jiran. Istana diam.

Berita pengampunan untuk mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani juga bagai petir di siang bolong. Bagaimana mungkin orang yang terbukti korupsi di pengadilan itu diberi ampunan. ATM politik SBY yang penuh dengan investasi antikorupsi menjadi terkuras.

Yang terakhir, sejumlah koruptor bebas bersyarat. Termasuk sang besan SBY, Aulia Pohan. KPK, yang menjadi simbol antikorupsi, dengan tegas menolak pengampunan pemotongan hukuman koruptor. Pembebasan sejumlah napi korupsi menjadi ganjalan di tengah upaya pemberantasan korupsi. Bebasnya Aulia Pohan yang pro-kontra membuat ATM politik SBY semakin tergerus dan menipis.

Jangan-jangan SBY berpikiran sekarang tak membutuhkan ATM politik lagi? Tak membutuhkan investasi lagi, bahkan ATM politiknya terkuras juga tak apa-apa. Bukankah dia sudah berpamitan tak akan maju lagi pada Pilpres 2014?

Sumber : Taufik Lamade, wartawan Jawa Pos. (lamade@jawapos.co.id)

Read More......

Selasa, 20 Juli 2010

SETELAH KAU KINI JADI ORANG LAIN*

Semua hati pasti pernah berjanji dengan ragam takarannya. Janji yang konon terikat oleh ruang dan waktu (space and time) adanya. Pada kehidupan, masa dan lingkungan lain yang sempat kita nikmati. Seloroh hati berjanji dengan rasa termanis pada saatnya. Janji yang pernah kita ikhtiarkan untuk ditepati. Tersaksikan oleh selaksa peristiwa yang berlalu dan melampau. Janji pada bilangan dekade masa lalu kehidupan kita. Janji yang tererosi oleh pergerakan waktu dan realitas kita ini.

Pada saatnya, indah dan melanglang jauh diujung pengharapan dan fantasi. Seakan dunia kita genggam hanya dengan sebelah tangan semata. Khayal dan ilusi begitu gampang dicipta untuk merealisasikan mimpi dan janji yang terucap sayup ditelinga kebersamaan. Begitu tipis rasanya batas antara kenyataan dan harapan yang mengharu riuh dan biru mewangi. Sebuah penjelasan panjang serasa belum cukup untuk menceritakan lembaran-lembaran kenangan dan keindahan. Catatan diary cukup lancar tertoreh menggenapi hari demi harinya. Prosesi keramat yang selalu membuat anak muda mengginggau panjang untuk mengakhirinya.

Inilah kisah lama yang dirakit dari kumpulan kebersamaan dan mimpi. Diantara bayang-bayang masa depan yang segera bergerak jauh. Sejauh realitas kekinian hari ini. Sebuah fase terindah bagi pengelana yang mengembara direrimbun kehidupan. Belantara mistery yang selalu terisi oleh riak alir sungai jernih dan telaga bening. Hanya suasana teduh dan rimbun pohon yang nyaman untuk disinggahi. Belum ada terik mentari yang bisa membakar kesejukan embun-embun fajar pagi. Negeri yang menjadi referensi dongeng-dongeng legenda ketentraman pengantar tidur kita. Kita terpisah dengan nyata dari cerita nestapa dan penderitaan hidup.

Pada suatu hari, dinegeri atas awan itu dengan saksi gumpalan mendung dan gerimis sore, terkuak rahasia langit biru akan kehidupan baru yang menggerahkan. Sang malam menyergap sigap meggapai tangan lembut menganjak pergi jauh. Dibalik gelapnya, tersua latar buram kisah keabdian hari. Dan sang mimpi harus dibuyarkan untuk menjemput kenyataan sesungguhnya. Siang terik kembali terisi fatamorgana yang silau. Akhirnya, kita harus pasrah untuk berdamai dengan panas sinar matahari yang penuh kesumpekan. Keringat dan gerah menjadi hadiah besar dalam jalan yang setapak. Dunia ikut berubah sempit dan mengkerut menghimpit harapan dan janji-janji hati yang terkuras dulu.

Pada terik siang hari itu, dikeramaian komunitas yang sibuk, akhirnya genggam tangan terakhir menjadi sinyal kuat untuk sebuah symbol bahwa mimpi harus terurai dan mencair. Suhu siang ikut berkontribusi mempercepat akselarasi prosesnya. Dia pergi dengan seikat luka tergores kenyataan yang menghadap. Dia bergeming dengan kata selamat tinggal. Seuntai tanda ikut terbawa dibayang langit. Dia pergi untuk tak kembali lagi.

Kau kini telah menjadi orang lain, yang hanya bisa tertatap dikejauhan. Kau kini telah menjadi orang lain, untuk mengabdi pada tangkai yang lain. Bersemi bersama musim gugur untuk meneguk dahaga yang mendera. Kau, benar-benar telah menjadi orang lain. Tampa tersadari dan itu pasti. Selamat jalan wahai tangkai yang lemah……???

Nb : Disadur dari sebuah realitas sahabat malam.

(fahrinotes, 20/07/2010)


Read More......

Jumat, 02 Juli 2010

ALEXANDRIA MESIR: EKSOKTIKA DAN SEJARAH

ALEXANDRIA benar-benar sangat indah. Kota pantai terpanjang di Mesir itu juga menyimpan sejarah yang bernilai sangat tinggi. Sosoknya terpampang jelas sampai kini. Itulah kawasan paling utara Mesir yang menjadi saksi sejarah masuknya peradaban Islam dan Romawi ribuan tahun silam.

Pantainya menghadap ke Laut Mediterania yang benar-benar memesona. Pasirnya putih kekuningan, khas padang pasir Timur Tengah, berbaur dengan bebatuan yang menonjol di sana-sini. Saya sempat menyusuri pantai itu dengan berkendara mobil dan mengukur jauhnya. Ternyata panjang sekali, sekitar 25 kilometer. Benar-benar pantai yang sangat eksotik.

Di ujung paling barat terdapat Benteng Qait Bey, sultan Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir dan Syria 1468-1496 M, dan di ujung paling timur ada Taman Muntazah seluas 155 hektare, tempat istana Raja Farouq. Raja Farouq adalah keturunan terakhir Dinasti Muhammad Ali yang menjadi penguasa Mesir sejak abad ke-19. Raja Farouq digulingkan lewat kudeta militer oleh Gamal Abdul Nasser yang kemudian menggantikannya, sekaligus mengubah sistem kerajaan menjadi sistem republik sejak 1953.

Kudeta militer itu dilakukan karena Raja Farouq dikenal sebagai raja yang suka berfoya-foya dalam kemewahan dan dianggap menghabiskan kekayaan negara untuk berbagai aktivitas pribadinya. Karena itu, dia pun diasingkan ke Monako sampai meninggal. Karena kebiasaan makannya yang buruk, tubuhnya sangat gemuk dengan bobot 140 kg. Dia meninggal di atas meja makan, saat jamuan makan di Roma, Italia, pada usia 45 tahun.

Asetnya yang sangat banyak dilelang negara setelah dia meninggal. Istananya yang di Alexandria pun dialihkan menjadi milik negara. Kini istana Raja Farouq digunakan sebagai tempat menerima tamu-tamu kenegaraan Mesir. Arsitek bangunannya sangat menawan dan posisinya strategis. Dari sini kita bisa melihat hamparan Laut Mediterania yang memesona. Apalagi di sana terdapat jembatan peninggalan Raja Farouq, yang khusus dibangun sebagai tempat untuk menikmati kawasan indah itu, lengkap dengan taman dan gazebonya.

Benteng Qait Bey adalah bangunan pertahanan yang didirikan Sultan Qait Bey untuk menghadang gempuran pasukan Turki, Dinasti Usmani. Bangunannya persis di pinggir laut, di bagian daratan yang menjorok. Berada di bagian paling atas, saya menyaksikan air laut yang langsung menghampar luas. Benteng itu memang sangat strategis untuk menghadang pasukan yang datang dari bagian utara lewat laut.

Di dalamnya terdapat ruang-ruang perlindungan yang berlubang-lubang untuk menyorongkan senjata laras panjang ataupun meriam, menembaki musuh yang datang ketika mereka sudah berada dalam jarak jangkau tembakan. Itu sangat khas peperangan abad pertengahan. Tentu benteng tersebut sekarang sudah tidak berguna lagi karena bisa diserang dengan menggunakan pesawat terbang dengan bom-bom yang dijatuhkan dari atasnya. Atau, lebih gawat lagi dengan menggunakan peluru balistik yang memiliki daya jangkau ratusan sampai ribuan kilometer. Karena itu, benteng tersebut menjadi kenangan masa lalu, dan kini menjadi museum yang menyimpan sejarah.

Objek menarik yang lain adalah perpustakaan Alexandria, tidak jauh dari Benteng Qait Bey. Itulah perpustakaan terbesar dan tertua di dunia, yang menyimpan jutaan buku dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Mulai zaman sebelum Masehi sampai zaman modern kini.

Cikal bakalnya dirintis pada 323 SM, ketika kawasan tersebut dikuasai Alexander The Great dari Imperium Romawi. Dia kita kenal sebagai Iskandar Zulkarnaen. Karena itu, oleh masyarakat Mesir, kawasan tersebut disebut dengan dua nama, Alexandria atau Iskandariyah. Itulah ibu kota Mesir pada zaman itu. Sekitar seribu tahun Mesir berpusat di sana dan baru dipindahkan ke Kairo oleh Amru bin Ash ketika Islam masuk ke Mesir pada 621 M.

Iskandar Zulkarnaen-lah yang mula-mula membangun kota tersebut dengan mendatangkan sejumlah arsitek dari Yunani. Karena itu, selera Romawi kawasan tersebut sangat terasa dan masih tampak pada berbagai bangunan peninggalannya. Termasuk gedung teater tempat adu gladiator yang sempat saya kunjungi. Gedung itu merupakan tiruan Gedung Colloseum di Italia yang berbentuk setengah lingkaran dan kini sudah ambruk.

Iskandar Zulkarnaen memiliki panglima perang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, yaitu Ptolemi 1. Pada zaman Ptolemi 1 itulah, perpustakaan yang sangat besar mulai dibangun. Sampai pada era Ptolemi 3, jumlah buku dan manuskrip koleksinya sudah mencapai sekitar 700.000. Sayang, perpustakan tersebut dihancurkan Yulius Caesar saat dia menyerang Mesir pada 38 SM. Tak kurang dari 400.000 buku ludes dilalap api. Yulius Caesar akhirnya meminta maaf dan menggantinya dengan menyumbang 200.000 buku kepada Ratu Mesir Cleopatra, yang kemudian menjadi kekasihnya.

Perpustakaan yang sangat bersejarah itu lantas dibangun kembali pada 1990 atas bantuan UNESCO. Pembangunan tersebut baru selesai pada 2002 dan menjadi perpustakaan modern terbesar di dunia dengan biaya sekitar USD 220 juta. Dilengkapi 500 komputer yang bisa mengakses semua buku secara digital, perpustakaan itu bisa menyimpan tak kurang dari 8 juta buku dari berbagai disiplin ilmu. Daya tampung ruangannya sekitar 1.700 orang serta difasilitasi ruang-ruang seminar dan pusat penelitian.

Di sini tersimpan buku-buku berbagai bahasa, sejak zaman Yunani, Mesir Kuno, keemasan Islam, sampai zaman modern. Juga terdapat kitab Hindu dan Buddha. Dari perpustakaan itu pula, lahir nama-nama besar ilmuwan abad ketiga SM seperti Archimedes yang ahli matematika, Aristarchis yang secara spekulatif menyodorkan teori astronomi bumi mengelilingi matahari, serta Euclides sang penemu ilmu geometri, matematika, dan arsitektur.

Sumber : agusmustofa_63@yahoo.com) Jawa Pos 2 Juli 2010

Read More......

Kamis, 24 Juni 2010

JALAN KEHIDUPAN.

Malam ini, 22/06/2010, saya berangkat dari kota metropolis Surabaya menuju Malang pada jam menunjukkan pukul 21.00. Entah mengapa jalanan rada sepi sehingga saya dengan berani memacu motor andalan Honda Kharisma 125 cc. Dalam benak saya ingin sekali menyaksikan babak penyisihan piala dunia antara Swiss dan Chille. Saya naksir berat dengan kekompakkan dan mobilitas permainan Chile yang super aggresif. Lawannya Swiss beberapa hari yang lalu juga dengan gagah melabrak juara eropa Spainish dengan skor tipis 1-0. Sepertinya ini big match deh. Chille menghajar Honduras juga dengan skor tipis 1-0. Siapapun yang menang bakal lolos langsung ke putaran berikutnya 16 besar.

Singkatnya, setelah memacu motor saya dengan kencang akhirnya masuk gerbang Malang tepatnya di Lawang. Depan statsiun kereta api Lawang saya berhenti disebuah warung kopi yang sedang menyaksikan laga yang saya ceritakan tadi. Swis bentrok Chille. Lumayanlah saya bisa menyaksikan laga tersebut meski sudah memasuki menit ke 63 (babak kedua). Pesan kopi susu panas penghilang dingin yang menusuk sambil fokus pada laga seru kedua kesebelasan. Benar saja, Chille tampil memukau dengan serangan agresif yang seperti saya duga. Tapi Swiss juga tampil lebih hebat juga dibanding saat bentrok dengan Spanish yang hanya mengandalkan serangan balik. Kedua kesebelasan sangat memukau. Rasanya seperti nonton laga final saja. Meski pada akhirnya Chile bisa menepis kebuntuan dengan mencetak gol 1-0. Adalah Gozalo Fernandez sang pencipta gol. Kedua team benar habis-habisan. Salut buat kedua team.

Jam bergerak pada pukul 23.40 wib. Malang kian sepi dan dingin. Saya bergegas melanjutkan perjalanan dengan rasa puas adanya. Saya menghidupkan motor dan siap memacu kembali. Dari sudut gang kecil muncul sesosok lelaki separuh baya. Menghampiri saya tapi tidak berkata. Diam saja tapi sorot matanya hendak menegur. Saya berinisiatif menyapanya “Mau kemana pak ?”. Dengan setengah ragu bapaki tu menunjuk arah selatan (menuju ke Malang kota) yang searah dengan arah saya melanjutkan perjalanan. Saya kembali menegaskan “ Kesana ya pak ?” tegas saya. “Ayo pak bareng saya” ajak saya. Pada malam yang sudah larut saya pikir sudah tidak ada lagi kedaraan umum yang beroperasi. Bapak itu naik dan berada diboncengan. Lumayanlah buat teman ngobrol dijalan pikirku.

Benar saja, tampa saya minta Bapak itu benar-benar bercerita tentang pengalamannya yang sudah dilalui dalam kehidupannya yang sudah separuh baya. “Saya bukan asli orang Jawa, saya dari Lampung Sumatera” katanya. “Sebenarnya saya punya keluarga, isteri asli Lawang sini tapi saya diusir oleh isteri” ujarnya lirih. “Memang kerjaan saya serabutan tapi dia berselingkuh dengan pria lain, dia sudah jadi semacam setan bagi saya sekarang” timpalnya. Benak saya berputar mencari-cari kemana arah pembicaraannya. Dari lubuk saya sedikit percaya dengan guratan keluguan seorang laki-laki paruh baya yang sering saya jumpai. Tidak ada gunanya juga orang ini mengarang cerita. Mungkin saja dia ingin berbagi kisah pilunya yang tidak ada tempat baginya berbagi selama ini. Dengarkan sajalah pikirku. “ Umur Bapak berapa pak?” tanyaku memancing. “ Saya sudah 43 tahun dan isteri saya 47 tahun” kenangnya. Sepertinya umur Bapak ini lebih muda dari yang saya perkirakan ditlik dari raut wajah dan tampilannya. Dia lebih kusut dan nampak jauh lebih tua dari umur yang diutarakan itu. “Saya tidak punya anak hanya pernah memungut anak angkat yang sekarang tidak lagi mau memperhatikan saya” urainya lagi. Ah bapak ini mengingatkan saya pada cerita sinetron televisi yang dikarang itu.

“Kamu sudah menikah ya nak ?” Tanya bapak itu dengan datar. Saya tersentak saja apa maksudnya. Saya memberitahunya bahwa saya sudah menikah dan punya anak satu. “Jaga keluargamu nak dan jangan sampai selingkuh dengan wanita lain” petuahnya. Perjalanan sudah menjauh dan dia mengingatkan bahwa nanti dia turun didepan pasar Singosari. “Saya sekarang tidak punya siap-siapa, tidur dipinggiran toko saja, kerja serabutan. Yang peting masih bisa makan, jadi kuli pasar di Singosari” kisahnya pilu luruh. Sebuah kisah perjalanan kehidupan yang lumayan pahit rasanya. “Pak ? kenapa ga pulang kampung ke Lampung saja?” saranku merunut tempat asalnya. “Saya hanya dua bersaudara, saudaraku lainnya entah kemana saya tidak tahu lagi ” jawabnya. “Sudahlah mungkin ini jalan hidup saya sendiri yang kiranya saya ikhlas menerimanya” ujarnya pasrah. “Kamu baik-baik saja dengan keluargamu nak ?” doanya.

Kota Singosari mulai sepi. Toko-toko mulai tutup. Rasanya kehidupan hari ini mulai istirahat dari aktifitas sibuknya. Saya berhenti depan pasar Singosari yang sudah sepi. “Saya tidur disitu” jelasnya sambil menunjuk jembatan penyeberangan tepat didepan Pasar Singosari. Udara dingin menyadarkan saya bahwa bapak ini akan berselimut alam dan cuaca dingin sepanjang malam ini. Hati saya tertusuk jauh mengalahkan dinginnya udara malam dikota Singosari ini. Dengan sendu senyap bapak itu mengucapkan terimakasih atas tumpangannya. “Sama-sama pak” balasku. “Jaga diri baik-baik pak” lanjutku.

Dengan setengah hati saya lanjutkan perjalanan ini. Hatiku terusik dengan dingin dan penggalan kisah realitas yang telah kudengar dari mulut lugu dan jujur tadi. Tampa kutanyakan namanya pula saya telah belajar seuntai kisah nyata yang benar-benar berharga di malam special ini. Sampai di kost-kostan saya belum bisa memejam mata ini. Karenanya, kuraih laptopku, kucatat penggal kisah pilu bapak itu untuk mengingatkan betapa kehidupan benar-benar nyata adanya. Masih ada kepiluan yang tak terungkap pada sekitar diri kita. Betapa kontrasnya dengan apa yang kutemui selanjutnya, muda-mudi dengan asyik masyuk bergelayut mesra dengan lawan jenisnya di sepanjang jalan Soekarno Hatta kota Malang. Padahal malam telah larut dan yakin saja mereka bukan pasangan sah sebagai suami isteri. Mereka hanya menyalurkan hasrat hedonisnya semata menghabiskan malam dengan kesenangan yang tak halal itu. Bapak itu tenggelam bersama nasib dan kehidupan yang tidak berpihak padanya.

Catatan ini kudedikasikan buat Bapak misterius malam ini yang mengajarkan padaku catatan pinggir jalan tentang kenyataan dan perjalanan hidup yang terasa lirih pilu dan menusuk jauh dikedalaman jiwa. Sayangnya, saya yakin bapak itu pasti luput membaca catatan ini bahwa dia telah berbagi satu hal yang sangat berharga bagi saya dan mungkin untuk kehidupan lain.

Selamat jalan bapak.

Malang, tengah malam
22 Juni 2010

Fahrinotes.

Read More......

Selasa, 15 Juni 2010

MURAHNYA HUKUM LALU LINTAS.

Satu jam yang lalu, saya terperangkap macetnya lalu lintas di daerah bencana Porong Sidoarjo. Dampak lumpur Lapindo Berantas telah menghancurkan sarana transportasi utama jalan raya Porong. Saat ini, untuk kesekian kalinya ditimbun lagi guna meninggikan ruas badan jalan tersebut agar tidak tergenang hujan yang masih saja mengguyur deras. Akibatnya, macet lagi-macet lagi.
Jalan raya Porong itu jadi vital bagi saya yang sedang menempuh pendidikan lanjut di Unibraw Malang. Saya tinggal dikota Suarabaya bersama keluarga kecil. Sekitar dua tahun saya mengakrabi jalan ini dengan ragam kompleksitas masalah yang mewarnainya. Salah satu masalah utamanya adalah Razia Ilegal para polisi lalulintas, selain macet yamg telah saya ceritakan sebab musababnya tadi.

Setela keluar dari perangkap macet dan panasnya suasana sekitar Lapindo Berantas tepatnya dipertigaan mulut Tol Porong, kalau dari arah Surabaya menuju Malang maka kita akan memasuki pasar porong. Jalannya padat dan penuh dengan kendaraan besar. Sebelum pasar terdapat gang kecil sebelah kiri jalan dari arah Surabaya terdapat razia oleh para polantas yang dengan sergap menahan banyak kendaraan khususnya roda dua. Hari ini mungkin agak sial bagi saya, saya ditahan dan digiring masuk kearah gang tersebut. Setelah basa basi saya ditunjukkan ragam pelanggaran yang ada pada motor saya. Spionnya kurang satu, tidak punya baut/mur, dengan inisiatif sendiri saya tunjukkan surat-surat kendaraan dan SIM. Saya dialihkan ke petugas lain yang sedang sibuk dengan corat-coret surat tilang yang dibawanya di atas motor patroli polantas itu. Surat-surat saya ditahan.

Sambil menunggu giliran, saya didatangi oleh petugas lainnya. “Sudah tahu pelanggarannya?” ujarnya. Dengan tegas mantap saya jawab “ saya tidak tahu”. Mendengar jawaban saya Akhirnya saya dialihkan ke petugas lainnya lagi. Entah apa dalam pikirannya, mungkin saja masih ada semburat ketakutan dalam lubuk hatinya. Petugas itu berjalan dan bergabung dengan teman lainnya kearah jalan, tentu saja, untuk menangkap mangsa baru lagi.

Petugas yang sibuk dengan surat tilang diatas motor polantasnya tadi memegang surat-surat saya. Bertanya dan menyelidik ”pelanggarannya apa ?”. Saya jawab “ kaca spion hanya satu”. “Wah itu Rp. 51.000” Saya bingung dengan cermatnya sang petugas menghafal nomimal rupiah yang jadi sanksi. Setahu saya biasanya petugas yang intelek akan menjelaskan pasal-pasal dan baru menjelaskan sanksi yang termuat dalam UU Lalu lintas. “Mau bayar di sidang pengadilan atau dititipkan disini ? ” Saya makin tercengang dengan tingkah aneh petugas Polantas dikawasan bencana ini. Menawarkan jasa penitipan yang sangat “tulus” tentunya. Sengaja kata TULUS saya beri tanda kutip karena saya tidak menangkap irama ketulusan sama sekali. Sekedar sebuah sarkasme semata. Bagaimana tidak, penawaran jasa penitipan ini tidak didukung oleh sikap yang tulus pula. Sekelompok petugas yang memakai masker penutup wajah, pakaian dinasnya tidak terbuka seluruhnya alias nama identitasnya tidak terlihat sama sekali, dengan berani menawarkan jasa penitipan pula. Untuk apa kata TULUS perlu dilontarkan ?.

Saya juga paham bahwa dengan spion hanya satu memang melanggar aturan lalu lintas, tetapi cara petugas menindak pelanggaran yang kurang saya pahami. Dalam aturan yang sempat saya browsing, bahwa aturan razia juga sangat penting dimana lebih kurang 50 meter sebelum tempat razia harus ada tanda pemberitahuan. Petugas harus menanyakan surat kelengkapan kendaraan dan SIM. Memperkenalkan diri dengan sopan, tidak menggunakan masker penutup muka, punya identitas lengkap. Saya juga bertanya dipengadilan mana persidangan dilakukan, jawabnya “Pengadilan Sidoarjo”.
Sebagai orang luar daerah tentu saja saya tidak tahu menahu dimana gedung itu berada.

“Bayar sekarang atau dipengadilan” ujarnya lagi. “Kalau saya sidang surat apa yang ditahan?” Tanya saya. “STNK dan sidangnya tanggal 25” ketusnya. Dalam hati, saya geli dan gelo, barabe neh saya ga bisa kemana-mana dengan motor. Padahal saya sedang butuh bimbingan mengakhiri tesis akhir. “Bayar disini sekarang atau mau apa?” wah rupanya mereka ga sabar lagi. “Banyak yang antri kok” tepisnya lagi. Saya diharuskan untuk mengeluarkan jurus negosiasi juga. “Pak, saya hanya spion yang kurang, saya mahasiswa buru-buru neh, saya minta keringanan saja”. Dengan alotnya negosiasi nomimal itu saya gugat. Terlalu besar untuk ukuran pelanggaran ringan ini. “Boleh kurang tapi Cuma Rp. 1000 (seribu)” ujarnya mesem-mesem. “Terserah, saya hanya punya Rp. 20.000 saja” kata saya.

Mungkin sudah kesal, atau antrian baru mulai menumpuk maka petugas itu mengalah. “Ya sudah, sini Rp. 30.000 saja” ujarnya. Saya juga sudah diburu waktu maka saya keluarkan Rp. 25.000. “Cepat mas” hardiknya. “Kok kurang” tambahnya lagi. Saya akhirnya tambahkan Rp. 3.000 lagi sebagai bentuk protes saya tidak mau menggenapkan apa yang dimintanya.

Akhirnya, hukum atau aturan lalu lintas saya beli dengan harga murah Rp. 28.000 hari ini. Pelajaran buruk bagi penegakkan hukum yang sedang kita risaukan hari-hari terakhir dinegeri ini. Pada “pasien” lainnya terlihat mereka tergeleng-geleng kepalanya pertanda protes. Sialnya, hanya itu yang bisa dilakukan pada saat razia legal ini berlangsung. Penuturan warga sekitar daerah itu bahwa praktek ini sering dan berlangsung cukup lama ditempat saya membeli aturan ini. Kasihan negeri ini, para aparatnya seenaknya tawar menawar aturan tampa standart yang jelas.

Satu kalimat yang sangat sedih dan terdengar lirih bagi saya dari mulut manis petugas yang diperuntukan untuk kelancaran lalu lintas itu, tentu saja masih dalam tutupan maskernya, “Jauh-jauh dari Bima……………….??????.........?”. Isyarat bahwa dia belum puas dengan nominal yang dibayarkan. Kalau ini bukan rakus tentu tidak menghargai perbedaan dan daerah lain. Sangat disayangkan…?

Pembaca, inilah cikal bakal keruntuhan. Penegak hukum tidak bertindak sesuai hukum itu sendiri. Lebih miris lagi, sedemikian murahnya sebuah hukum. Semoga tidak terulang dan tidak ada petugas Negara yang mengulanginya lagi. Semoga notes singkat ini bisa dibaca oleh para petugas abdi Negara, bil khususnya, Polisi Lalu Lintas, untuk berbenah dan sadar diri.

Semoga ini tidak menegaskan sebuah pameo sarkasme polisi lalu lntas kita: hanya ada 3 polisi baik, 1. Polisi Hoegeng, 2. Patung Polisi dan 3. Polisi Tidur.

Fahrinotes.
Porong Sidoarjo, 15 Juni 2010
(Korban)


Read More......

Rabu, 09 Juni 2010

TRAGEDI SANG CALON INTELEKTUAL.

Pandangan ini sangat penuh subjektifitas, karenanya boleh saja digugat dengan amarah sekalipun. Namun, realitas aneh telah melanda sekalangan mahasiswa dengan hedonisme yang luar biasa adanya. Sebuah capaian yang sangat jauh dari predikat mahasiswa yang nota bene berlomba dan mengutamakan rangkaian prestasi dan mendongkrak prestise. Sungguh, ini memiriskan karena dilakoni oleh sang calon intelektual pada saat berada dikawah candra penggemblengan diri untuk bersiap memasuki gelanggang kehidupan nyata. Hedonik, gaya hidup yang mengutamakan kesenangan diri meski melanggar tata, nilai, krama, fitrah dan pula ajaran agung bernama agama.

Baru-baru ini, survei Komisi Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar mengungkap, 97 persen remaja pernah menonton atau mengakses pornografi, 93 persen pernah berciuman bibir. Sedangkan 62,7 persen pernah berhubungan badan dan 21 persen remaja telah melakukan aborsi. Data tersebut cukup menjadi alasan kuat bagi semua pihak untuk mencemaskan masa depan putra-putri yang tengah berajak dewasa ini. Apa yang terjadi dengan remaja Indonesia saat ini? Lalu bagaimana cara menangkal anak-anak generasi masa depan bangsa ini tidak terjerumus dalam lubang free sex?

Dulu, dua tiga dekade lampau, dikampung saya ujung timur negeri gersang yang bernama Bima, gaya pacaran masih beradab dan penuh norma etika. Menemukan seorang wanita yang berbusana sedikit minim di tempat umum adalah “keberuntungan” adanya. Disebut beruntung karena itu hal langka dan sulit dijumpai. Saat ini, keadaan telah berada situasi yang bergeser terbalik. Justru sangat mudah melihat ketatnya “kaos adek” dari gerombolan gadis-gadis muda yang berkeliaran diwilayah publik. Sesungguhnya, sebenarnya hanya layak digelar di ruang privat semata. Kalau ada anak laki-laki muda yang sedang “silaturrahim” dengan sang pujaan diteras rumah, biasanya sangat malu bila ada orang yang lewat dihalaman melihat acara kencannya. Tapi kini, kadang orang yang lewatlah yang buru-buru berganti arah karena malu melihat kemesraan pasangan muda di emperan teras rumahnya. Sebuah pergeseran nyata akan budaya malu. Malu bukan lagi milik pelaku dan pelanggar norma yang dengan mesra berhimpitan manja, melainkan diperuntukkan kepada siapapun yang menyaksikan pelanggaran itu terjadi. Intinya, malu bukan pada pelakunya lagi tapi pada saksi.

Kini, kembali pada tema mahasiswa masa kini, hinggar binggar kota telah melenakan sang generasi muda kita. Mahasiswa yang awalnya sangat teguh dengan tekadnya untuk meraih sebanyak mungkin pengetahuan dan ilmu untuk membekali diri, perlahan luntur dan rubuh, memanfaatkan kesempatan yang ada, selagi jauh dari jangkauan pengawasan sang Pembina disiplin, orang tua. Gelagat yang kian mudah terbaca semakin banyak saja kasus “kecelakaan” dibanyak daerah/kota tujuan pendidikan kita. Luar biasanya, kejadian-kejadian yang saya temui setahun terakhir ini, “kecelakaan” hebat itu justru disebabkan oleh “bentrok yang manis” antar sesama mahasiswa/mahasiswi dari satu daerah. Dari negeri yang sama saling “menabrak” melabrak batas-batas yang sepatutnya. Sepertinya, gejala ini menjurus pada geliat predatorisme. Saudari dari satu kampung bukan lagi dijaga layaknya pagar bagi tanamannya. Tetapi, dengan tega “dimangsa” oleh sekumpulan kambing pemamah biak. Bukan berarti kita memaklumi kalau umbar nafsu meski bukan pada saudara sekampung itu boleh, tetapi kita disini bisa mencermati bahwa demikian semakin ganasnya hedonisme kalangan ini.

Terakhir, betapa galaunya hati, ketika mendengar sumpah serapah, cerita bangga, senyum simpul dan bahkan menganggap sebuah pencapaiaan prestasi rasanya, ketika saudara-saudara muda kita menepuk dada mendeklarasikan diri bahwa mereka telah berhasil dengan mantap “menikmati” lalapan daun muda. Rasa bangga yang bergeser terbalik dari bidang-bidang prestasi akademik, ketrampilan dan prestise kepada aktifitas hedonis, perampasan harapan dan pelanggaran fitrah. Bukankah itu sesungguhnya adalah sebuah aib dan layak malu ?

Bagi kita sebenarnya ini adalah tragedy !!!!

Pembaca, ini bukan mengada-ada tapi realitas yang tengah terjadi ditimbun oleh dinginnya cuaca dan kurangnya rasa peduli kita semua. Wahai orang tua yang baik, anak-anak kita tengah membutuhkan perhatian yang lebih lagi dari kita walau jarak yang jauh. Wahai diri, resapkanlah kesadarn yang tertinggi lagi. Moga kita, lebih khususnya teman mahasiswa/i, jauh dari yang sedemikian itu.

Malang Hening Malam,
28 Mei 2010

(fahrinotes)
Salam.

Read More......

Selasa, 01 Juni 2010

UNTUK SANG ISTERI (Sepenggal Puisi Dari BJ Habbie)

Sebagai rasa cinta, Habibie pun menuliskan sepenggal puisi untuk mengenang kepergian Ainun. Berikut petikan puisi karya Habibie untuk sang istri tercinta, Ainun Hasri Besari BJ Habibie.

Isteri Tercintaku

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,

Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,

cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,

calon bidadari surgaku ....

BJ HABIBIE

Read More......

Rabu, 26 Mei 2010

Lelaki Yang Gelisah

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya.


Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya? Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal.

Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini,saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk. Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon.

Saya punya pikiran lain.

Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah? Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah.

Apa maksudnya?

Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya. Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah.

Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya.

Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan? Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu.

Isinya seperti ini:
“Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos.

Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu. Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat.

Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu. Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya? Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa.

Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi. Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan. Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet.

Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih. Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter.

Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini.

Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya. Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri.

Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan. Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir di mata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.”

Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

Read More......

Kamis, 20 Mei 2010

10 Racun Psikolog Dalam Diri

Racun pertama : Menghindar
Gejalanya, laridari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
Antibodinya : Realitas
Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.

Racun kedua : Ketakutan
Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkimpoian, kesulitan seksual.
Antibodinya : Keberanian
Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Kebenarian merupakan merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.

Racun ketiga : Egoistis
Nyiyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.
Antibodinya : Bersikap sosial.
Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akn diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.

Racun keempat : Stagnasi
Gejalanya berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.
Antibodinya : Ambisi
Cara : Teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. kita kan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.

Racun kelima : Rasa rendah diri
Gejala : Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.
Antibodinya : Keyakinan diri.
Cara : Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya aka kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.

Racun keenam : Narsistik
Gejala : Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.
Antibodinya : Rendah hati.
Cara : Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.

Racun ketujuh : Mengasihani diri
Gejala : Kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.
Antibodinya : Sublimasi
Cara : Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.

Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan
Gejala : Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.
Antibodinya : Kerja
Cara : Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.

Racun kesembilan : Sikap tidak toleran
Gejala : Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.
Antibodinya : Kontrol diri
Cara : Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.

Racun kesepuluh : Kebencian
Gejala : Keinginan balas dendam, kejam, bengis.
Antibodinya : Cinta kasih
Cara : Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.

Simpanlah paket tiket untuk perasaan tidak bahagia dan mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang. ***

Read More......

10 Karakter Pemenang dan Pecundang

Kenali Karakter Anda !!!!

01. Ketika pemenang melakukan kesalahan dia berkata “saya salah!” / Ketika pecundang melakukan kesalahan dia berkata, “ini bukan salah saya!”

02. Pemenang berkata, “saya sudah baik, tapi saya bisa lebih baik lagi!” / Pecundang berkata, “saya tidak sejelek orang lain!”

03. Pemenang mencoba belajar dari setiap orang yang lebih baik dari pada dia. / Pecundang selalu mencoba menjatuhkan orang lain.

04. Pemenang berkata, “mari saya kerjakan ini untuk anda!” / Pecundang berkata, “itu bukan pekerjaan saya!”

05. Pemenang berkata, “pasti ada cara lebih baik mengerjakannya! “ / Pecundang berkata, “begitulah biasanya dikerjakan disini!”

06. Pemenang berkata, “ini sulit tapi mungkin!” / Pecundang berkata, “ini mungkin tapi sangat sulit untuk mengerjakan! “

07. Pemenang selalu mempunyai rencana-rencana. / Pecundang selalu mencari alasan.

08. Pemenang mempunyai komitmen-komitmen. / Pecundang hanya berjanji-janji saja.

09. Pemenang selalu menjadi bagian dari jawaban. / Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah.

10. Pemenang tuntas memecahkan masalah. / Pecundang selalu tanggung-tanggung & tidak pernah memecahkan masalah.

Termasuk yang manakah diri kita ?….

Read More......

Kapan Terakhir Mengasah Kapak Anda ?

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, "Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu."

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. "Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "Kapan terakhir kamu mengasah kapak?" "Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga," kata si penebang.

"Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

"Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu" Istirahat bukan berarti berhenti.

"Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu"
Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!

Read More......

Tuhan Menciptakan Kejahatan ?????

Apakah Tuhan menciptakan kejahatan ?????

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantanG mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,

"Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?""Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara - perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan." Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Read More......

Percayalah Intuisi Anda

Berapa sering anda berkata kepada diri sendiri, setelah menghadapi kenyataan, "Aku tau seharusnya aku melakukan itu"? Berapa sering anda secara intuitif mengetahui sesuatu tetapi malahan membuat diri anda berusaha memikirkan pemecahannya sendiri?

Mempercayai intuisi berarti mendengarkan dan mempercayai bahwa suara batin yang hening ini mengetahui apa yang perlu kita lakukan, tindakan apa yang perlu diambil, atau perubahan apa yang perlu diambil dalam hidup kita. Banyak dari kita tidak mendengarkan intuisi karena takut bahwa tak mungkin kita mengetahui sesuatu tanpa memikirkannya terlebih dahulu, atau takut bahwa jawaban yang benar mungkin dapat sangat jelas.

Kita mengatakan sesuatu kepada diri kita seperti ini, "Ini tak mungkin benar" atau "Aku tak mungkin melakukan ini." Dan, begitu kita membiarkan pikiran kita ini memasuki gambaran itu, kita akan mengabaikan gambaran itu. Kita lalu mengajukan keterbatasan-keterbatasan kita, yang kemudian jadi melekat pada diri kita.

Bila kita dapat mengatasi rasa takut bahwa intuisi kita akan memberi jawaban yang salah, bila kita dapat belajar mempercayainya, hidup kita akan menjadi petualangan ajaib seperti yang kita inginkan. Mempercayai intuisi seperti menghilangkan hambatan untuk memperoleh kenikmatan dan kebijakan. Inilah cara untuk membuka mata dan hati terhadap sumber kebijakan dan kecerdasan yang terbesar.

Bila anda tak terbiasa mempelajari intuisi, mulailah dengan menyisihkan sedikit waktu hening untuk menjernihkan pikiran dan dengarkanlah. Abaikan dan hilangkan pikiran yang biasa ada di kepala dan pikiran yang merusak diri yang memasuki pikiran dan perhatikanlah pikiran-pikiran tenang yang mulai muncul.

Bila anda merasakan ada pikiran-pikiran menyenangkan yang tidak biasa muncul di kepala anda, perhatikanlah dan ambillah tindakan. Bila, sebagai contoh, anda mendapatkan pesan untuk menulis atau menelepon seorang yan anda cintai, lakukanlah. Bila intuisi mengatakan anda harus memperlambat kegiatan atau meluangkan lebih banyak waktu untuk diri sendiri, usahakanlah agar itu terjadi. Bila anda diingatkan akan sebuah kebiasaan yang perlu diperhatikan, perhatikanlah. Anda akan menemukan bahwa bila intuisi memberikan pesan dan anda membalasnya dengan melakukan tindakan, anda sering kali akan diberi imbalan berupa pengalaman positif yang menyenangkan.

Mulailah mempercayai intuisi anda hari ini dan anda akan menyaksikan dunia yang lebih berbeda dalam hidup ini.

Read More......

Bukan Sekedar Hidup

Ciptakan Kehidupan......

"Your successes and happiness are forgiven you only if you generously consent to share them. – Kesuksesan dan kebahagiaan akan sangat berarti jika kau mau berbagi dengan orang lain.” Albert Camus

Untuk dapat sekedar hidup, mungkin kita tidak perlu bersusah payah mencari peluang ataupun memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas dan manfaat diri kita. Namun sebagai mahluk yang paling spesial diantara mahluk ciptaan Tuhan YME, kita berkewajiban untuk mendapatkan kehidupan yang berarti. Kita harus berupaya semaksimal mungkin. Sebuah pepatah bijak menyebutkan, “Find a meaningful need and fill it better than anyone else. – Kejarlah sesuatu yang bermakna, dan gunakanlah setiap peluang yang ada secara lebih baik dari siapapun.”

Ada beberapa langkah untuk menjadikan kehidupan kita menjadi lebih berarti. Langkah pertama adalah memperbesar kemauan untuk belajar. Manusia mempunyai pikiran yang luar biasa, maka gunakan pikiran tersebut untuk belajar menciptakan kemajuan-kemajuan dalam hidup. Kita dapat belajar dari berbagai hal, diantaranya adalah belajar kepada pengalaman hidup, kegagalan, kejadian sehari-hari, orang lain dan sebagainya. Maka tingkatkan terus kemauan belajar.

Langkah kedua supaya kehidupan kita lebih berati adalah mencoba melakukan sesuatu agar lebih dekat dengan impian yang diidamkan. Bekerjalah lebih keras, lebih aktif atau produktif. Langkah ini sangat efektif dalam meningkatkan kemungkinan mendapatkan uang, kekayaan atau segala sesuatu yang berharga bagi manusia.

Satu hal yang patut dijadikan pedoman bahwasanya kerja keras itu bukan semata-mata mengejar 5 P, yaitu power (kekuasaan), position (posisi), pleasure (kesenangan), prestige (kewibawaan) dan prosperity (kekayaan). Setiap usaha yang hanya berorientasi kepada lima hal tersebut memang menjamin kesuksesan atau bahkan hasil yang melimpah ruah, tetapi tidak menjamin sebuah akhir yang menyenangkan. Contohnya adalah sebuah fakta tentang delapan orang miliarder di Amerika Serikat yang berkumpul di Hotel Edge Water Beach di Chicago, Illionis pada tahun 1923. Mereka adalah orang-orang yang sangat sukses, tetapi mengalami nasib tragis 25 tahun kemudian.

Salah seorang diantara mereka adalah Charles Schwab, CEO perusahaan besi baja ternama pada waktu itu, yaitu Bethlehem Steel. Tetapi Charles Schwab mengalami kebangkrutan total. Sehingga ia terpaksa berhutang untuk membiayai hidupnya selama 5 tahun sebelum meninggal. Yang kedua adalah Richard Whitney, President New York Stock Exchange. Namun pria ini ternyata menghabiskan sisa hidupnya dipenjara Sing Sing. Orang ketiga adalah Jesse Livermore, raja saham “The Great Bear” di Wall Street. Tetapi Jesse mati bunuh diri.

Orang ke empat adalah “The Match King”, Ivar Krueger, CEO perusahaan hak cipta, yang juga mati bunuh diri. Begitu juga dengan Leon Fraser, Chairman of Bank of International Settlement, ia mati bunuh diri. Yang keenam adalah Howard Hupson, CEO perusahaan gas terbesar di Amerika Utara. Tetapi ia sakit jiwa dan dirawat di rumah sakit jiwa hingga akhir hidupnya. Arthur Cutton sebelumnya adalah pemilik pabrik tepung terbesar di dunia, tetapi ia meninggal di negri orang lain. Sedangkan Albert Fall, waktu itu ia adalah anggota kabinet presiden
Amerika Serikat. Namun ia meninggal di rumahnya di Texas ketika baru saja keluar dari penjara.

Di dunia ini tidak sedikit orang yang semula sangat sukses, tetapi merana di tahun-tahun terakhir kehidupan mereka. Kehidupan mereka seakan-akan tidak berarti meskipun sebelumnya sangat kaya raya. Upaya terbaik memang dapat menghasilkan kesuksesan besar, tetapi bukan berarti merupakan jaminan sebuah akhir kehidupan sebagai manusia yang penuh arti.

Karena itu langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah mengimbangi kerja keras dengan berbuat kebaikan. Seorang penulis pada abad 20-an yang berkebangsaan Perancis, AndrĂ© Gide, mendefinisikan kebaikan itu sebagai berikut; “True kindness presupposes the faculty of imagining as one’s own the suffering and joys of others. Kebaikan yang sesungguhnya adalah kemampuan merasakan penderitaan maupun kebahagiaan orang lain.”

Kerja keras yang diimbangi dengan berbuat kebaikan akan menghasilkan semangat yang tinggi untuk mendapatkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Hal itu terdorong oleh keinginan untuk dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Pada akhirnya kebaikan tersebut berpengaruh positif terhadap semangat hidup, motivasi, dan kemajuan sikap dan ekonomi. James Allen, penulis buku berjudul As a Man Thinketh mengatakan, “Pemikiran serta perbuatan baik tidak mungkin mendatangkan hasil yang buruk; pemikiran dan perbuatan buruk tidak mungkin mendatangkan hasil baik.”

Dengan belajar, bekerja keras dan berbuat kebaikan maka kita akan dapat menciptakan kehidupan yang jauh lebih berarti. Langkah-langkah sebagaimana dijelaskan diatas terbukti juga sangat efektif menjadikan kesan positif tentang diri kita tidak mudah dilupakan orang. Saya meyakini bahwa kita masih mempunyai banyak kesempatan dan potensi untuk mendapatkan kehidupan berharga itu dimanapun dan apapun pekerjaan kita.

Sumber: Make A Life, Not Merely A Living - Ciptakan Kehidupan, Bukan Sekedar Hidup oleh Andrew Ho.

Read More......

BERGERAK ITU HIDUP

Ayo Terus bergerak ........

Air, jika dibiarkan terus menggenang, tanpa aliran, lama-lama akan menjadi sarang penyakit. Demikian juga udara, jika dibiarkan berhenti, tak berhembus, akan menimbulkan kepengapan dan akhirnya merusak pernapasan. Semua harus bergerak. Tidak boleh ada yang diam.

Adalah kenyataan bahwa segala ciptaan Allah selalu bergerak. Bumi, matahari, bulan, bintang, dan semua tata surya berotasi tiada henti. Sekali terhenti akan terjadi kerusakan dan bencana yang luar biasa. Bahkan makhluk-makhluk mikro seperti bakteri dan virus pun bergerak.

Hukum Tuhan yang terjadi pada alam raya itu sesungguhnya terjadi juga pada diri manusia. Secara fisik, jika manusia berhenti, diam, dan tidak melakukan aktifitas, maka dalam kurun waktu tertentu kesehatannya pasti terganggu. Selain mudah lelah, berbagai penyakit akan mulai berdatangan.

Demikian pula halnya dengan pikiran.

Seseorang yang membiarkan otaknya berhenti berpikir, maka dalam jangka waktu tertentu pikirannya akan terganggu. Sulit berpikir logis dan sistematis. Berpikirnya meloncat-loncat, sulit mengingat, dan mudah lupa. Menurut penelitian ilmiah, orang yang kurang terbiasa menggunakan pikirannya, pada usia tuanya akan menjadi pikun.

Jika rumus pergerakan itu terjadi pada alam dan individu manusia, maka hal yang sama juga pasti berlaku pada sebuah masyarakat dan organisasi.

Jangan sekali-kali berhenti, diam, atau stagnan. Karena diam itu berarti mati. Diam itu bisa membawa penyakit. Diam itu tidak sehat. Jangan takut perubahan, perbaikan, dan pembaruan. Sebab semua ciptaan-Nya ditakdirkan selalu bergerak dalam sebuah rotasi yang telah ditentukan.

Read More......

HADAPILAH HIDUPMU

Hadapilah...

Disuatu masa, di tepian laut dengan ombak yang begitu besarnya. Terlihat sebongkah karang besar yang menjulang tinggi dengan perkasanya, berdiri kokoh diantara hempasan ombak-ombak laut. Tak jauh dari sana, terlihat ikan-ikan kecil yang mengelilingi sebongkah karang tersebut, sambil merapat diantara bongkahan karang tersebut, bertanyalah salah seekor ikan kecil kepada bongkahan karang tersebut,

"Wahai karang besar, setiap hari terkena deburan ombak, namun tidak terlihat lelah diwajah mu, malah dirimu terlihat selalu ceria, apakah rahasia dari semua itu?" Tanya si ikan kecil terheran-heran.
" hahahah.....tentu saja, dengan senang hati aku akan menceritakan kepada mu wahai ikan kecil"

Jawab karang besar tersebut :
"Hadapilah....cukup hadapi dan jangan pernah menghindar......" lanjut si karang besar
"Apakah kamu tidak takut suatu saat kamu akan hancur akibat deburan ombak tersebut wahai si karang besar " Tanya ikan kecil itu lagi
"Tentu saja ketakutan itu pernah menghampiri ku, namun itu dulu...."
"Sekarang didalam pikiran ku hanya ada satu jawaban apabila deburan ombak itu menghampiri ku yaitu hadapilah. Dengan pikiran positif dan pengalaman ku selama ini pasti sekuat apapun deburan ombak menimpahku, diri ku akan sanggup menghadapinya." Lanjut si karang besar menerangkannya.

Mendengar penjelasan si karang besar, si ikan kecil tersenyum puas, hari ini dia berhasil mendapatkan pelajaran berharga mengenai hidup ini.

---
Seperti yang dialami oleh karang besar, kita juga selalu dihadapi oleh masalah, tekanan, halangan, tantangan ataupun beban yang begitu besar didepan kita, dan terjadi silih berganti. Sebagai insan yang bijak, alangkah benarnya prinsip yang di paparkan oleh si karang besar diatas yaitu Hadapilah, kita tidak bisa lari dari masalah, karena masalah itu akan selalu mengikuti kita dimana pun kita berada.

Hadapilah semua masalah dengan pikiran positif, dengan ilmu yang telah kita peroleh setiap harinya dan dengan pengalaman yang telah ditaburkan dalam hidup kita, niscaya setiap masalah yang datang pada kita hanya akan seperti deburan ombak yang mengenai sebongkah karang besar berlalu begitu saja.

Belajar hikmah dari sang karang……..?

Read More......

TERNYATA, HIDUP ITU SEDERHANA SAJA.

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/ diambil kerja di tempatnya. Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik."
Ibu menjawab: "Mengapa?"
Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."
Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.
Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur."
Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."
Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?"
Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."
Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."
Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi."
Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana."
*Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."
Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."
Beberapa hari kemudian katak 'sawah' menjenguk katak 'pinggir jalan' dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat. Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?" Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit."
Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

Read More......

Cukup Itu Berapa ?

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup".

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.

Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

---
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. "Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata "Cukup"

Tambah lagi ......... ???

Read More......

NILAI PERSAHABATAN

Apa yang kita alami demi teman kadang- kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya...

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan,dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia terinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda ?? Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai ?? Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa ??

MEREKALAH SAHABAT ANDA Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.

** Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita.Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita**

Toast untuk sahabat2 kita, merekalah harta yang tak ternilai harganya

Read More......

Biasakan Hidup Dengan Catatan

Seperti saat belanja, barang yang anda catat akan lebih besar kemungkinan terbeli, sementara barang yang tidak anda catatkan lebih besar kemungkinan untuk terlupakan.


Sama juga dengan itu, buatlah catatan tentang apa yang anda ingin capai hari ini, supaya kemungkinan anda bisa mencapainya menjadi lebih besar. Bersamaan juga dengan itu, buat catatan tentang masalah dan tantangan anda karena masalah yang tercatat akan lebih mungkin untuk diselesaikan.


Saat membuat catatan, anda memiliki satu sekutu besar di pihak anda — yaitu komitmen dan kendali. Saat anda menuliskan catatan, tindakan itu telah mencerminkan sebuah komitmen untuk menyelesaikan masalah. Dan saat anda mulai mencatat - anda telah mengubah pikiran anda menjadi kerja - dan itu berarti kendali, anda telah berusaha mengendalikan masalah anda.


Dengan menuliskan masalah anda, anda mulai mengambil alih kendali atas masalah. Dengan menuliskan tujuan anda, anda mulai bergerak dari sekedar dorongan keinginan - menjadi dorongan untuk mewujudkan.


Maka, biasakanlah membuat agenda-agenda kehidupan ini dengan catatan-catatan singkat agar hidup lebih fokus dan konsen pada hal-hal yang penting dan perlu semata. Tidak semua keinginan kita bisa kita penuhi dengan baik tetapi pula ada banyak cara untuk mencukupkan kebutuhan kita dengan skala prioritas berdasarkan urgensi dan tuntutan hidup ini.


Jangan terlambat untuk memulai sesuatu yang baik dan berguna. Ada baiknya, sediakan buku catatan kecil disaku kita : SEKARANG JUGA.

Read More......

Kisah Pemberian Petani Kepada Raja

Suatu ketika, hiduplah seorang petani bersama keluarganya. Mereka menetap di sebuah kerajaan yang besar, dengan raja yang adil dan bijaksana. Beruntunglah siapa saja yang tinggal disana. Tanahnya subur, keadaannya pun aman dan sentosa. Semuanya hidup berdampingan, tanpa pernah mengenal perang ataupun bencana.

Setiap pagi, sang petani selalu pergi ke sawah. Tak lupa ia membawa bajak dan kerbau peliharaannya. Walaupun sudah tua, namun bajak dan kerbau itu selalu setia menemaninya bekerja. Sisi-sisi kayu dan garu bajak itu tampak mengelupas, begitupun kerbau yang sering tampak letih jika bekerja terlalu lama. "Inilah hartaku yang paling berharga", demikian gumam petani itu dalam hati, sembari melayangkan pandangannya ke arah bajak dan kerbaunya.

Tak seperti biasa, tiba-tiba ada serombongan pasukan yang datang menghampiri petani itu. Tampak pemimpin pasukan yang maju, lalu berkata, "Berikan bajak dan kerbaumu kepada kami. "Ini perintah Raja!". Suara itu terdengar begitu keras, mengagetkan petani itu yang tampak masih kebingungan.

Petani itu lalu menjawab, "Untuk apa, sang Raja menginginkan bajak dan kerbauku? "Ini adalah hartaku yang paling berharga, bagaimana aku bisa bekerja tanpa itu semua. Petani itu tampak menghiba, memohon agar diberikan kesempatan untuk tetap bekerja. "Tolonglah, kasihani anak dan istriku…berilah kesempatan sampai besok. Aku akan membicarakan dengan keluargaku…"

Namun, pemimpin pasukan berkata lagi, "Kami hanya menjalankan perintah dari Baginda. Terserah, apakah kau mau menjalankannya atau tidak. Namun, ingatlah, kekuasaannya sangat kuat. "Petani semacam kau tak akan mampu melawan perintahnya." Akhirnya, pasukan itu berbalik arah, dan kembali ke arah istana.

Di malam hari, petani pun menceritakan kejadian itu dengan keluarganya. Mereka tampak bingung dengan keadaan ini. Hati bertanya-tanya, "Apakah baginda sudah mulai kehilangan kebijaksanaannya? Kenapa baginda tampak tak melindungi rakyatnya dengan mengambil bajak dan kerbau kita? Gundah, dan resah melingkupi keluarga itu. Namun, akhirnya, mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk menyerahkan kedua benda itu kepada raja.

Keesokan pagi, sang petani tampak pasrah. Bersama dengan bajak dan kerbaunya, ia melangkah menuju arah istana. Petani itu ingin memberikan langsung hartanya yang paling berharga itu kepada Raja. Tibalah ia di halaman Istana, dan langsung di terima Raja. "Baginda, hamba hanya bisa pasrah. Walaupun hamba merasa sayang dengan harta itu, namun hamba ingin membaktikan diri kepada Baginda. Duli Paduka, terimalah pemberian ini…."

Baginda Raja tersenyum. Sambil menepuk kedua tangannya, ia tampak memanggil pengawal. "Pengawal, buka selubung itu!! Tiba-tiba, terkuaklah selubung di dekat taman. Ternyata, disana ada sebuah bajak yang baru dan kerbau yang gemuk. Kayu-kayu bajak itu tampak kokoh, dengan urat-urat kayu yang mengkilap. Begitupun kerbau, hewan itu begitu gemuk, dengan kedua kaki yang tegap.

Sang Petani tampak kebingungan. Baginda mulai berbicara, "Sesungguhnya, aku telah mengenal dirimu sejak lama. Dan aku tahu kau adalah petani yang rajin dan baik. Namun, aku ingin mengujimu dengan hal ini. Ternyata, kau memang benar-benar hamba yang baik. Engkau rela memberikan hartamu yang paling berharga untukku. Maka, terimalah hadiah dariku. Engkau layak menerimanya…."

Petani itu pun bersyukur dan ia pun kembali pulang dengan hadiah yang sangat besar, buah kebaikan dan baktinya pada sang Raja.

***
Teman, bisa jadi, tak banyak orang yang bisa berlaku seperti petani tadi. Hanya sedikit orang yang mau memberikan harta yang terbaik yang dimilikinya kepada yang lain. Namun, petani tersebut adalah satu dari orang-orang yang sedikit itu. Dan ia, memberikan sedikit pelajaran buat kita.

Sesungguhnya, Tuhan sering meminta kita memberikan terbaik yang kita punya untuk-Nya. Tuhan sering memerintahkan kita untuk mau menyampaikan yang paling berharga, hanya ditujukan pada-Nya. Bukan, bukan karena Tuhan butuh semua itu, dan juga bukan karena Dia kekurangan. Namun karena sesungguhnya Tuhan Maha Kaya, dan Tuahn sedang menguji kita semua.

Dan teman, mari kita berikan yang terbaik yang kita punya kepada-Nya. Marilah kita tujukan waktu, kerja dan usaha kita yang terbaik hanya kepada-Nya. Karena sesungguhnya memang, kita tak akan pernah menyadari balasan apa yang akan kita terima atas semua itu.

Read More......

Hanya Cuma Duri

Tertusuk Hanya Oleh Duri

Sepulang dari pasar, dua bocah kecil kakak beradik berjalan menyusuri jalan kampung menuju rumahnya. Di tengah perjalanan, sang adik mengaduh kesakitan. Sesuatu menusuk kakinya dan menghentikan langkahnya. Ia menjerit, menangis tak kuasa menahan rasa sakit setengah tergeletak di tanah.

Si kecil terus memegangi kakinya, sedangkan abangnya hanya tersenyum menyaksikan polah adiknya yang dianggapnya berlebihan. Tanpa sedikit pun rasa panik, ia memegang kaki adiknya dan mencari sumber rasa sakit itu. Tak setetes pun darah keluar dari kaki adiknya, ia pun tersenyum dan berkata, "Cuma duri kok, dik. Sini abang keluarkan durinya," si abang mencoba menenangkan.

Bukannya tenang, si adik malah semakin histeris. Ia takut abangnya akan mencongkel kakinya dengan pisau, atau bahkan memotong kakinya. Tangisnya semakin keras berusaha memertahankan kakinya, tak ingin seorang pun menyentuh luka di kakinya. Sempat ia meminta abangnya agar menggendongnya saja sampai di rumah, atau setidaknya menunggu sampai rasa sakitnya hilang sehingga ia merasa mampu berjalan kembali.

Namun tak berapa lama, tangis itu berhenti dan hanya terdengar sesegukan kecil saja. Rupanya, bayangan buruk yang akan terjadi pada kakinya hilang ketika si abang hanya mengeluarkan semata peniti yang dipakainya sebagai pengganti kancing kemejanya yang hilang.

Perlahan dan penuh kehati-hatian, si abang mengeluarkan duri di kaki adiknya. Dan beberapa menit kemudian, duri pun berhasil dikeluarkan, "Tidak perlu memotong kakimu kan?" Kali ini seulas senyum yang tergambar di wajah adiknya.

***

Duri kecil yang menusuk di kaki, tak semestinya membuat perjalanan terhenti sama sekali. Berhenti sejenak, keluarkan durinya, dan lanjutkan perjalanan. Duri kecil hanya menusuk bagian sangat kecil dari telapak kaki. Untuk menghilangkan durinya, tak pula harus memotong kaki, karena itu semakin menimbulkan rasa sakit yang lebih.

Kemampuan kita melihat pokok masalah akan menentukan seberapa tepat kita mengambil keputusan dalam mengambil tindakan guna menyelesaikan masalah tersebut. Jangan pernah memandang masalah kecil dengan kaca pembesar, ia akan terlihat sangat besar dan terasa sulit dicari jalan keluarnya.

Tidak perlu membakar rumah hanya untuk mencari bangkai tikus yang mengganggu seisi rumah. Endus saja sumber baunya dan segera singkirkan bangkainya, bau tak sedap pun pasti hilang.

Sayangnya, sebagian dari kita masih sering terjebak pada kondisi dimana masalah senantiasa terlihat lebih besar dari kemampuan yang kita miliki untuk menyelesaikannya. Sungguh, bakteri pun selalu terlihat lebih besar di mikroskop. Padahal dengan mata biasa, ia takkan terlihat. Sebenarnya, kita sendirilah yang kerap menjadikan masalah itu seolah lebih besar dari keadaan sesungguhnya.

Disadur dari : Bayu Gawtama (KotaSantri.com)

Read More......
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya

elfahrybimantara*  Aktifitas mengajar disiplin bidang kelautan dan perikanan. Konsern dengan dunia kelautan dan perikanan. Senang dengan wisata bahari. Mengabdi di Pemkab Bima NTB. Pendidikan Magister Perikanan di Universitas Brawijaya Malang (strata 2) pada bidang bioteknology perikanan. Mari bertukar informasi. Salam Sahabat Blogger.

My Friend Follow Me

Label

Musisi Cilik

Musisi Cilik
Hidup Seperti Musik Bukan Aturan

AL QUR'AN SPYRITE :

MAKA NIKMAT TUHAN KAMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN ? (QS. Arrahman:31) (diulang sebanyak 31 kali).
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates